Kamis, 06 Juni 2013

KONSEP DAN HAKIKAT PENDIDIKAN



KONSEP DAN HAKIKAT PENDIDIKAN
Oleh :
Evi Trisni Budi Utami
   
KATA   PENGANTAR
            Puji dan  syukur  patut  kita  panjatkan  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esa  oleh  karena  bimbingan  dan  petunjuk – Nyalah  sehingga kami dapat menyelesaikan Karya tulish yang kami susun ini sebagaimana  mestinya.
Karya Tulis  ini  dibuat  sesuai  dengan  kaidah-kaidah  yang  terdiri  dari  Pendahuluan , Landasan Teori , Pembahasan, Kesimpulan dan Saran .
            Tak  ada  gading  yang   tak  retak , begitupun   penyusunan  makalah  ini  masih  sangat  jauh  dari  kesempurnaan  oleh  karena  itu  saran  dan  kritikan  dari  semua  pihak  yang  sifatnya  membangun  sangat  kami  harapkan.
              Dan  sebagai  hamba  Allah  yang  lemah  tentu  kami  berharap  supaya  segala  bantuan  dari  berbagai  pihak  hanya  Allah  SWT  yang  dapat  membalasnya  dengan  pahala   yang   berlipat  ganda . Amin.

Samarinda, November 2012
                Penulis

 DAFTAR  ISI

                                                                                                                  Halaman
Sampul Judul ............................................................................................. i
Kata Pengantar ......................................................................................... ii
Daftar Isi ....................................................................................................iii
I.       PENDAHULUAN
          A.      Latar Belakang ......................................................................... 1
          B.      Rumusan Masalah ....................................................................  2      
          C.      Tujuan Penulisan Makalah  ......................................................   2
          D.      Manfaat Penulisan Makalah......................................................   2
II.      LANDASAN TEORI
A.    Definisi Konsep ...........................................................................   3
B.     Definisi Pendidikan .....................................................................    4
III.    PEMBAHASAN
A.    Konsep Pendidikan .....................................................................  16
B.     Hakikat Pendidikan .....................................................................  18
IV.    KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan ..................................................................................  22
B.     Saran ............................................................................................ 23
Daftar  Pustaka .........................................................................................  24

 
BAB  I
PENDAHULUAN

A.      Latar  Belakang 
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia dimuka bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia. Dalam kondisi apapun manusia tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan.
Sejak dahulu dari generasi ke generasi, walaupun berawal dari sesuatu yang sederhana, sesungguhnya pendidikan sudah ada. Pengetahuan, pemahaman dan pengalaman tentang pendidikan senantiasa perlu dipersegar dan diperkaya, mengingat ilmu, konsep tentang pendidikan adalah hasil pemikiran manusia yang bersifat dinamis, berubah – ubah karena pengaruh situasi dan kondisi kehidupan umat manusia pada umumnya. konsep pendidikan selalu mengalami perubahan seiring dengan tuntutan zaman dan peradaban umat manusia di dunia dalam berbagai aspek kehidupan.
Pemahaman yang baik tentang hakikat pendidikan akan memperkaya wawasan dan memantapkan kepercayaan diri si pendidik karena si pendidik memiliki pegangan yang kuat dalam melakukan berbagai upaya pendidikan.
Menyadari peran penting pendidikan, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahami terlebih dahulu konsep dan hakikat pendidikan. Pemahaman tentang konsep dan hakikat pendidikan akan menyebabkan kita memahami peran, mendudukkannya, dan menilai pendidikan secara proporsional.

B.      Rumusan   Masalah    
          Dari permasalahan di atas, maka permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah Apakah konsep dan hakikat pendidikan yang sesungguhnya ?

C.      Tujuan   Penulisan     
          Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberi pemahaman kepada pembaca mengenai konsep dan hakikat pendidikan serta hal – hal yang terkandung didalamnya.

D.      Manfaat  Penulisan
1.             Untuk memudahkan pembaca dalam memahami konsep dan hakikat pendidikan
2.             Dapat mendorong keinginan pembaca untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang konsep dan hakikat pendidikan
3.             Memperkaya wawasan dan memantapkan kepercayaan diri pembaca karena pembaca akan memliki pegangan yang kuat dalam melakukan berbagai upaya pendidikan.


BAB  II
LANDASAN TEORI

A.      Definisi Konsep
          Menurut Dorothy J. Skell (1979:18), “Konsep adalah sesuatu yang tergambar dalam pikiran atau suatu pemikiran, gagasan atau suatu pengertian. Definisi lain yaitu konsep adalah suatu citra mental tentang sesuatu. Sesuatu tersebut dapat berupa objek konkret ataupun gagasan yang abstrak”. Sedangkan james G. Womack (1970:30) mengemukakan konsep sebagai suatu kata atau ungkapan yang berhubungan dengan sesuatu yang menonjol, sifat yang melekat. Pemahaman dan penggunaan konsep yang tepat bergantung pada penguasaan sifat yang melekat tadi, pengertian umum kata yang bersangkutan. Konsep memiliki pengertian denotatif dan juga pengertian konotatif.

          Berdasarkan dua acuan konsep tadi, dapat dikemukakan bahwa konsep itu tidak lain adalah pengertian yang tergambar dalam pikiran yang mencitrakan suatu benda atau suatu gagasan, baik konkret ataupun abstrak.
Adapun maksudnya bahwa konsep memiliki pengertian denotatif dan konotatif yaitu : Pengertian denotatif adalah pengertian berdasarkan arti katanya yang dapat digali dalam kamus, sedangkan pengertian konotatif adalah pengertian yang tingkatnya tinggi dan luas.


B.   Definisi Pendidikan
          Pendidikan merupakan suatu fenomena manusia yang sangat kompleks. Karena sifatnya yang sangat kompleks itu maka pendidikan dapat dilihat dan dijelaskan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sudut pandang psikologi, sosiologi dan antropologi, ekonomi, politik, komunikasi dan sebagainya. Oleh sebab itu pula, definisi yang dikemukakan oleh para ahli sangat beragam. Definisi yang dikemukakan oleh para ahli memiliki tekanan dan orientasi yang berbeda-beda karena landasan falsafah yang digunakan berbeda-beda pula.
Berikut beberapa definisi pendidikan :
1.             Secara Estimologik        
Istilah asing yang biasa dipakai untuk memaknai kata pendidikan adalah : paedagogie (Bahasa Yunani) dan education (Bahasa Latin).

a.       Paedagogie (Menurut Bahasa Yunani)     
        Untuk memahami pendidikan, ada dua istilah yang dapat mengarahkan pada pemahaman hakikat pendidikan, yakni kata paedagogie dan paedagogiek. paedagogie bernakna pendidikan, sedangkan paedagogiek berarti ilmu pendidikan (Purwanto, 1995:3). Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila pedagogik (pedagogics) atau ilmu mendidik adalah ilmu atau teori yang sistematis tentang pendidikan yang sebenarnya bagi anak atau untuk anak sampai ia mencapai kedewasaan (Rasyidin, 2007:34).  

        Secara estimologik, perkataan paedagogie berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak. Paidagogos adalah hamba atau orang yang pekerjaannya menghantar dan mengambil budak-budak pulang pergi atau antar jemput sekolah. Perkataan “paida” merujuk kepada kanak-kanak, yang menjadikan sebab mengapa sebagian orang cenderung membedakan antara pedagogi (mengajar kanak-kanak) dan andragogi (mengajar orang dewasa).

        Perkataan pedagogi yang juga berasal dari bahasa Yunani kuno juga dapat dipahami dari kata “paid” yang bermakna anak, dan “ogogos” yang berarti membina atau membimbing. Apa yang dipraktikkan dalam pendidikan selama ini adalah konsep pedagogi, yang secara harfiah adalah seni mengajar atau seni mendidik anak-anak (Muis Sad Imam, 2004:5)

b.      Education (Menurut Bahasa Latin)          
        Menurut Khursyid Ahmad, education berasal dari bahasa latin yaitu e, ex (Out) artinya keluar, dan ducere artinya mengatur, memimpin, menyerahkan. Sehingga memiliki arti mengumpulkan dan menyampaikan informasi (pelajaran) dan menyalurkan / menarik bakat keluar. Dalam praktik pendidikan, kegiatan-kegiatan seperti mengatur, memimpin dan mengarahkan bakat anak merupakan aktivitas utama.

2.      Secara Terminologik        
         Dari sudut pandang terminologik, pendapat para ahli pendidikan cukup beragam dalam memberikan arti pendidikan. Namun sebelumnya terlebih dahulu mari kita perhatikan definisi pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Bahasa Inggris berikut.
         Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah suatu usaha manusia untuk mengubah sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991).

         Berdasarkan Kamus Bahasa Inggris Oxford, kata pendidikan diambil dari Bahasa Latin pada pertengahan abad ke-16, dari kata education dari asal kata kerja educare yang bermakna the process of receiving or giving systematic instruction, especially at a school or university. Yaitu pendidikan adalah proses menerima atau memberi instruksi secara sistematik, terutama di sekolah atau perguruan tinggi.

A.  Menurut Para Ahli / Tokoh Pendidikan
1.             George F Kneller, dalam bukunya Foundation Of Education
Dalam arti luas Pendidikan adalah suatu tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pikiran, watak atau kemampuan fisik individu. Sedangkan dalam arti sempit pendidikan adalah apa yang kita peroleh melalui belajar, pengetahuan atau nilai-nilai dan keterampilan.



2.              John Dewey, dalam bukunya Democracy & Education
Pendidikan merupakan rekonstruksi atau reorganisasi pengalaman yang menambah makna pengalaman, dan menambah kemampuan untuk mengarahkan pengalaman selanjutnya.

3.             Fredrick Mayer, dalam bukunya Foundation Of Education
Pendidikan adalah Suatu proses yang menuntun pencerahan umat manusia.

4.             John S Brubacher, dalam bukunya Modern Philosophies Of Education
Pendidikan merupakan proses dimana potensi-potensi, kemampuan, kapasitas manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan yang baik, dengan alat yang disusun dan mencapai tujuan yang ditetapkan.

5.             Carter V Good, dalam Dictionary Of Education
Pendidikan merupakan :
Keseluruhan proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk tingkah laku lain yang bernilai positif dalam masyarakat dimana dia hidup.

Proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol, sehingga memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan social dan individual yang optimal.

6.             Menurut Buku “Higher Education For American Democracy"
        Education is an institution of civilized society, but the purposes of education are not the same in all societies. An educational system finds it’s the guiding principles and ultimate goals in the aims and philosophy of the social order in wich it functions (11:5)

        Pendidikan ialah satu lembaga dalam tiap – tiap masyarakat yang beradab, tetapi tujuan pendidikan tidaklah sama dalam setiap masyarakat. System pendidikan suatu masyarakat (bangsa) dan tujuan – tujuan pendidikannya didasarkan atas prinsip – prinsip (nilai – nilai), cita-cita dan filsafat yang berlaku dalam suatu masyarakat (bangsa).


                   7.      Langeveld
Mendidik adalah memberikan pertolongan secara sadar dan sengaja pada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju kearah kedewasaan dalam arti berdiri sendiri dan bertanggung jawab sesuai atas segala tindakan – tindakannya menurut pilihannya sendiri. Langeveld juga mengemukakan tiga hakikat manusia :
a.Manusia hakekatnya sebagai makhluk sosial
b.          Manusia hakekatnya sebagai makhluk individu
c.Manusia hakekatnya sebagai makhluk susila

8.      Kosasih Djahiri (1980 : 3)
Pendidikan adalah merupakan upaya yang terorganisir, berencana dan berlangsung kontinyu (terus menerus sepanjang hayat) kearah membina manusia / anak didik menjadi insan paripurna, dewasa dan berbudaya.
        Dari pengertian tersebut bahwa pendidikan merupakan upaya yang terorganisir memiliki makna bahwa pendidikan tersebut dilakukan oleh usaha sadar manusia dengan dasar dan tujuan yang jelas, ada tahapannya dan ada komitmen bersama di dalam proses pendidikan itu. Berencana mengandung arti bahwa pendidikan itu direncanakan sebelumnya, dengan suatu proses perhitungan yang matang dan berbagai system pendukung yang disiapkan. Berlangung kontinyu artinya pendidikan itu terus menerus sepanjang hayat, selama manusia hidup proses pendidikan itu akan tetap dibutuhkan. Selanjutnya diuraikan bahwa dalam upaya membina tadi digunakan asas / pendekatan manusiawi / humanistic serta meliputi keseluruhan aspek / potensi anak didik serta utuh dan bulat (aspek fisik-non fisik : emosi-intelektual ; kognitif, afektif dan psikomotor) sedangkan pendekatan humanistic adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia potensial (mempunyai kemampuan kelebihan – kekurangannya dll), diperlukan dengan penuh kasih sayang, hangat, kekeluargaan, terbuka, objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan / paksaan apapun juga.

9.      Kleis (1974)
Pendidikan adalah pengalaman, yang dengan pengalaman itu seseorang atau sekelompok orang dapat memahami sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami.
Pengalaman itu terjadi karena ada interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungannya. Interaksi itu menimbulkan proses perubahan (belajar) pada manusia dan selanjutnya proses perubahan itu menghasilkan perkembangan (development) bagi kehidupan seseorang atau kelompok dalam lingkungannya.
10.  Idris (1982 : 10)
Pendidikan adalah serangkaian kegiatan komunikasi yang bertujuan antara manusia dewasa dengan si anak didik yang secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya, dalam arti supaya dapat mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, agar menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.

11.  Hogeveld
Pendidikan adalah membantu anak supaya dia cukup cakap menyelenggarakan tugas hidup atas tanggung jawab sendiri.

12.  Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat pada anak – anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya.

Menurut Ki Hajar Dewantara terdapat lima asas dalam pendidikan yaitu :
a.       Azas kemerdekaan : memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka, melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat.
b.      Azas kodrat alam :  pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya.
c.       Azas kebudayaan : berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudayaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia tetap diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acuan utama (jati diri).
d.      Azas kebangsaan :  Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain.
e.       Azas kemanusiaan :  Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan.

13.  Jean Piaget (1896)
Pendidikan berarti menghasilkan, mencipta, sekalipun tidak banyak, sekalipun suatu penciptaan dibatasi oleh pembandingan dengan penciptaan lain. Pandangan tersebut memberi makna bahwa pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.

14.  (Mc Leod, 1989)
Dalam pengertian yang sempit pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan.

15.  (Mudyahardjo, 2001:6)
Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup serta pendidikan dapat diartikan sebagai pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal.

16.  (Muhibinsyah, 2003:10)
Dalam pengertian yang agak luas pendidikan diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.

17.  (Poerbakawatja dan Harahap, 1981)
Dalam arti luas pendidikan meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, dan keterampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Artinya pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.

18.  (Thompson, 1993)
Pendidikan merupakan pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan prilaku, pikiran dan sikapnya.

19.  J.J. Rousseau
Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.


20.  Crow and Crow
Pendidikan merupakan Proses dimana pengalaman dan informasi diperoleh sebagai hasil belajar.


B.     Menurut Pandangan Mono Disipliner
          Dalam rangka menjawab pertanyaan apa hakekat pendidikan itu, sementara para ahli hanya berorientasi kepada salah satu (mono) disiplin ilmu tertentu saja. Mereka itu antara lain adalah :

1.      Pandangan Sosiologi
Menurut pandangan ini pendidikan hendaknya dilihat sebagai aspek sosial. Oleh karena itu pendidikan dirumuskan sebagai usaha (proses) pewaris social dari generasi ke generasi (Redja Mudyahardjo, 1985:3)

2.      Pandangan Antropologi (Budaya)
Pendidikan dirumuskan sebagai usaha pemindahan nilai-nilai budaya ke generasi berikutnya. Inti kebudayaan disimpulkan adalah bermacam-macam pengetahuan. Hal ini sering dikenal sebagai proses culture overdrach. Pandangan ini sejalan dengan pandangan aliran Essensialisme.

3.      Pandangan Psikilogi
Pandangan ini banyak cabang-cabangnya, sebanyak aliran jiwa yang ada, misalnya behaviorisme, individualism (ilmu jiwa, individual), psikoanalitik dan lain-lainnya. Jika orientasinya kepada behaviorisme, maka aspek tingkah laku yang dipentingkan. Jika orientasinya ilmu jiwa individual, maka aspek pribadi utuh yang diutamakan.

4.      Pandangan Ekonomi
Pandangan ini melihat pendidikan sebagai usaha penanaman modal insan.

5.      Pandangan Politik
Pendidikan diartikan sebagai usaha pembinaan kader bangsa, cinta bangsa.


6.             Pandangan Filosofis tentang Hakikat Manusia (Antropologi  Filsafat)
Terhadap hakikat manusia terdapat banyak sekali pandangan-pandangan yang satu dengan yang lain saling berbeda.

a.       Manusia sebagai homo religious (makhluk beragama), maka hakikat pendidikan berarti mengembangkan kesadaran beragama melalui pendidikan agama.
b.      Manusia sebagai homo sapiens (makhluk rasional / berpikir), maka hakekat pendidikan ialah mengembangkan kemampuan berfikir anak / subjek didik, melalui pendidikan intelektual (kognitif)
c.       Manusia sebagai homo economicus (makhluk ekonomis / kesadaran ekonomi), maka hakekat pendidikan adalah membimbing anak hingga dapat bertindak sesuai prinsip-prinsip ekonomi.
d.      Manusia sebagai homo fiber (makhluk berpiranti), maka hakekat pendidikan adalah mengembangkan dan melatih berbagai macam keteampilan.
e.       Manusia sebagai homo etis (makhluk susila), maka hakekat pendidikan ialah menanamkan norma-norma kesusilaan dan mampu berbuat susila.
f.       Manusia sebagai homo socius (makhluk sosial), maka hakekat pendidikan adalah proses sosialisasi atau mempersiapkan hidup di masyarakat.
g.      Manusia sebagai homo mono dualis (makhluk dwi tunggal), yaitu jasmani dan rohani. Maka hakekat pendidikan berarti mengembangkan kedua aspek tersebut sebagai kesatuan.
h.      Manusia sebagai makhluk homo mono pluralis (makhluk seutuhnya dari macam-macam segi), maka hakekat pendidikan berarti mengembangkan semua sisi kepribadiannya (individu, sosial, agama, kecerdasan, keterampilan, dan seterusnya.


C.     Menurut Pandangan Multi Disipliner
Berdasarkan tinjauan multi disipliner, Redja Mudyahardjo (1986:3) mengembangkan bahwa pendidikan adalah keseluruhan kerja insansi yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam membantu terjadinya proses transformasi atau perubahan tingkah laku seseorang sehingga mencapai kualitas hidup yang diharapkan.


D.           Konsep Pendidikan Ditinjau dari Perundang-Undangan Indonesia.

   UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
   Pasal 1 ayat 1
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
 

BAB  III
PEMBAHASAN

A.      Konsep Pendidikan
          Salah satu pengertian yang sangat umum dikemukakan oleh Driyarkara (1980) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani harus diwujudkan di dalam seluruh proses atau upaya pendidikan.
          Di dalam Kamus Internasional Pendidikan (International Dictionary Of Education) pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga ciri utama sebagai berikut.
1.             Proses mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat, dimana dia hidup.
2.             Proses sosial, dimana seseorang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) untuk mencapai kompetensi sosial dan pertumbuhan individual secara optimum.
3.      Proses pengembangan pribadi atau watak manusia.
          Pengertian tersebut mirip dengan pendapat G. Thompson (1957) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap didalam kebiasaan-kebiasaan , pemikiran, sikap-sikap, dan tingkah laku. Sejalan dengan pandangan tersebut, Crow and Crow (1960) mengemukakan harus diyakini bahwa fungsi utama pendidikan adalah bimbingan terhadap individu dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya sehingga dia memperoleh kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya.
          Pendapat tersebut memandang pendidikan bukan hanya sebagai pemberian informasi pengetahuan dan pembentukan keterampilan melainkan lebih luas daripada itu, meliputi usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu sehingga tercapai pola hidup pribadi dan social yang memuaskan. Pendidikan dipandang bukan semata- mata sebagai sarana untuk menyiapkan individu bagi kehidupannya dimasa depan tetapi juga untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaan.
          Berdasarkan pengertian tersebut di atas, dapat diberikan beberapa ciri atau unsur umum dalam pendidikan, yaitu :
1.             Pendidikan harus memiliki tujuan, yang pada hakekatnya adalah pengembangan potensi individu yang bermanfaat bagi kehidupan pribadinya maupun bagi warga negara atau warga masyarakat lainnya;
2.             Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan perlu melakukan upaya yang disengaja dan terencana yang meliputi upaya bimbingan, pengajaran dan pelatihan;
3.             Kegiatan tersebut harus diwujudkan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang lazim disebut dengan pendidikan formal, informal dan nonformal.

B.   Hakikat Pendidikan                  
          Tilaar (1999:28) merumuskan hakikat pendidikan sebagai suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi local, nasional, dan global.
          Rumusan hakikat pendidikan tersebut memiliki komponen-komponen sebagai berikut.
1.             Pendidikan merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Artinya proses pendidikan mengimplikasikan bahwa peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan yang immanent (tetap ada) sebagai makhluk sosial, dan juga mengimplikasikan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak tidak pernah selesai.
2.             Proses pendidikan berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia. Artinya keberadaan manusia adalah suatu keberadaan interaktif. Interaksi manusia ini tidak saja dengan sesamanya, tetapi juga dengan alam, ide, dan dengan Tuhannya.
3.             Eksistensi manusia yang memasyarakat. Proses pendidikan adalah proses mewujudkan eksistensi manusia yang memasyarakat. Dalam proses ini terjadi internalisasi nilai-nilai, pembaruan dan revitalisasi (penyegaran) moral.
4.             Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi waktu dan ruang. Proses tersebut dapat menembus dimensi masa lalu, kini, dan masa depan. Selain itu berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi, proses pendidikan juga dapat menembus dimensi local, nasional, regional dan global.
        Kita juga harus mengetahui bahwa pandangan tentang hakikat pendidikan yang bersifat holistic dan integratif itu memandang peserta didik sebagai makhluk yang dikaruniai berbagai potensi oleh penciptanya. Potensi yang dimiliki oleh peserta didik hanya dapat dikembangkan jika dia mengintegrasikan diri ke dalam kehidupan masyarakat dan mewujudkan tata kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Itulah manusia yang berbudaya. Dengan demikian, pendidikan tidak dapat dan tidak boleh dipisahkan dari kebudayaan. Proses pendidikan adalah proses kebudayaan dan proses kebudayaan adalah proses pendidikan. Memisahkan pendidikan dari kebudayaan berarti menjauhkan pendidikan dari perwujudan nilai-nilai moral di dalam kehidupan manusia.
          Dimanapun pendidikan akan selalu berhadapan dengan individu manusia yang tengah berkembang, Sunaryo Kartadinata (1996) mengemukakan pengertian pendidikan dalam rumusan yang cukup sederhana tetapi penuh makna, yaitu pendidikan adalah proses membawa manusia dari apa adanya kepada bagaimana seharusnya.
          Kondisi apa adanya adalah kondisi nyata peserta didik saat ini, suatu keberadaan anak dengan segala potensi, kemampuan, sifat, dan kebiasaan yang dimilikinya. Sedangkan kondisi bagaimana seharusnya adalah suatu kondisi yang diharapkan terjadi pada diri anak, berupa perubahan perilaku dalam aspek cipta, rasa, karsa dan karya yang berlandaskan dan bermuatan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi.
          Dalam proses pendidikan terjadi proses perkembangan. Pendidikan adalah proses membantu peserta didik agar berkembang secara optimal; yaitu berkembang setinggi mungkin, sesuai dengan potensi dan sistem nilai yang dianutnya dalam masyarakat. Pendidikan bukanlah proses memaksakan kehendak orang dewasa kepada peserta didik, melainkan upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi perkembangan anak, yaitu kondisi yang memberikan kemudahan kepada anak untuk mengembangkan dirinya secara optimal.
          Betapa pun sulitnya mendefinisikan pendidikan, namun untuk keperluan aplikasinya tetap perlu memiliki pegangan tertentu, agar apa yang kita lakukan memiliki pijakan yang mantap. Sekarang Bangsa Indonesia telah memiliki Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dengan adanya Undang-Undang ini, maka penyelenggaraan pendidikan, terutama pendidikan formal memiliki pijakan legal yang mantap, bahkan mengikat berbagai pihak untuk melaksanakannya secara konsekuen.
          Akhirnya makna pendidikan yang mantap dinyatakan di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 (1) yaitu “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”.
Jika dikaji lebih mendalam, makna pendidikan tersebut mengandung beberapa hal, yaitu :
1.             Pendidikan itu merupakan usaha sadar, artinya tindakan mendidik bukan merupakan tindakan yang bersifat refleks atau spontan tanpa tujuan dan rencana yang jelas, melainkan merupakan tindakan yang rasional, disengaja, disiapkan, direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan mendidik harus didasarkan atas tujuan dan dengan alasan- alasan yang rasional dan normatif, bukan tindakan asal-asalan;

2.             Paradigma baru praktek pendidikan lebih menekankan kepada pembelajaran alih-alih kepada proses mengajar yang mengutamakan peran pendidik, melainkan secara sengaja dan terencana pendidik memanfaatkan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan untuk mencapai keberhasilan belajar peserta didik;
3.             Mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang efektif menjadi fokus utama proses pendidikan;
4.             Peserta didik harus aktif, artinya bukan hanya mendengarkan saja, melainkan harus lebih banyak bertanya, melakukan kegiatan tertentu, mencari sumber belajar, mencoba dan menemukan sendiri;
5.             Tujuan pendidikan adalah menumbuhkembangkan pribadi- pribadi yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, cerdas dan memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan dirinya, masyarakat dan bangsa.


BAB  IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.      Kesimpulan
Dari uraian tersebut baik tinjauan Kamus Besar Bahasa Indonesia, buku, pendapat para ahli serta perundang – undangan yang ada maka konsep dan hakikat pendidikan  dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dari pendidik yang mempunyai tanggung jawab mengenai masa depan anak atau peserta didik
  2. Tujuan yang ingin dicapai, yaitu pengembangan diri individu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sehingga bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang pribadi dan sebagai anggota masyarakat serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalu berubah
  3. Dalam setiap usaha pencapaian tujuan peserta didik dilibatkan dan diikutsertakan secara aktif
  4. Proses dan waktu pendidikan berlangsung sepanjang hayat mulai dari lahir hingga manusia meninggal
  5. Pencapaian tujuan pendidikan terlaksanakan dalam suatu proses yang memerlukan bimbingan, pengajaran dan latihan yang terencana, teratur dan sistematis
  6. Kegiatan pendidikan terselenggara dalam jalur pendidikan di sekolah dan pendidikan di luar sekolah.
  7. Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi – potensi pribadinya, yaitu rokhani (pikir, karsa, rasa, cipta, dan budinurani) dan jasmani (pancaindera serta keterampilan – keterampilan.
  8. Pendidikan berarti juga lembaga yang bertanggung jawab menetapkan cita – cita (tujuan) pendidikan, isi, system, dan organisasi pendidikan.
  1. Pendidikan merupakan pula hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha lembaga – lembaga tersebut dalam mencapai tujuannya. Pendidikan dalam arti ini merupakan tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai satu kesatuan.   


B.        Saran
 
       Walaupun konsep dan hakikat pendidikan yang dikemukakan para ahli sangat beragam, namun untuk keperluan aplikasi, kita tetap perlu memiliki pegangan tertentu yang cukup mantap. Salah satu pandangan yang tetap mantap tentang pendidikan hingga sekarang adalah pandangan perkembangan.


DAFTAR   PUSTAKA
Dr. M. Sukardjo, Ukim Komarudin, M.Pd. 2010. Landasan Pendidikan. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Drs. H. M. Djumransjah, M. Ed. 2006. Filsafat Pendidikan. Malang : Bayumedia Publishing.
Drs. H. Abu Ahmadi, Dra. Nur Uhbiyati. 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Agus Taufiq, Hera L. Mikarsa, Puji L. Prianto. 2010. Pendidikan Anak di SD. Jakarta : Universitas Terbuka.
Nursid Sumaatmadja. 2007. Konsep Dasar IPS. Jakarta : Universitas Terbuka.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar